Saya Adalah Orang Cacat Yang Sukses Setelah Ikut GIM  

Saya Adalah Orang Cacat Yang Sukses Setelah Ikut GIM  

Orang Cacat Yang Sukses –  Saya terlahir cacat sejak kecil. Walaupun demikian, saya tak kurang-kurangnya mendapat curahan kasih sayang dari orang tua. Mereka selalu support saya, mendampingi saya dan selalu mengajarkan berbagai ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan. Kaki saya yang tak kuat menahan beban tubuh mengharuskan saya untuk berjalan menggunakan alat bantu jalan, kruk, agar saya tetap fleksibel dalam beraktivitas. Saat itu menjadi orang cacat yang sukses hanya mimpi bagi saya.

Sejak SD hingga SMU, cacian dan makian tak jarang saya dapatkan dari teman-teman sekolah. Ada yang memanggil saya si cacat, ada yang memanggil saya si buntung, ada yang mempermainkan tubuh saya hingga saya tersungkur ke tanah bahkan saat SD ada yang meledek saya gak punya kaki sehingga saya langsung menangis dan mengadu ke orang tua. Saat dewasa pun, saya merasa tak bermanfaat karena tak sesempurna laki-laki pada umumnya. Dimana mereka bisa bermain bebas, mendaki gunung, hangout bareng dll. Apalagi masa muda adalah masanya berpacaran. Boro-boro saya pacaran, cewek dah ketakutan duluan jika mau temenan dengan saya lantaran kondisi fisik saya yang kurang sempurna. Saya sering berkhayal, kapan saya bisa sukses walau cacat tubuh seperti ini?

Namun itu cerita masa lalu sebelum saya mengikuti pelatihan GIM di Biocentrum. Sekitar 6 tahun lalu, saya membaca iklan Pelatihan Gemblengan Ilmu Metafisik (GIM) di iklan online. Setelah membuka web gemblenganilmumetafisik.com dan membaca testimoni kesuksesan para alumninya (sebutan bagi mereka yang pernah mengikuti pelatihan di Bioenergi Center), saya semakin yakin untuk mengikuti pelatihan GIM ini. Hal utama yang ingin saya dapatkan dari pelatihan ini pada dasarnya sangat simple, yaitu saya bisa sukses walau cacat, mendapatkan banyak jalan untuk mendapatkan rezeki sekalipun dengan kondisi cacat seperti ini.

Selama dua hari saya mengikuti pelatihan GIM di Yogyakarta. Semangat saya meninggi ketika mengaplikasikan falsafah Bioenergi dengan memecah buis beton dengan kepala. Kebayang ngerinya ya? Saya pun saat itu mengalami ketakutan yang luar biasa. Namun saya berusaha mengalahkan segala pikiran negatif dengan energi baru yang dipenuhi keyakinan dan percaya diri. Syukurlah, dari 35 peserta pelatihan, hanya 20 orang yang buis betonnya langsung pecah dipukulan pertama, dan salah satunya saya. Di pelatihan GIM ini pun saya merasa memiliki sebuah keluarga baru. Walaupun kami para peserta berasal dari berbagai daerah dari Indonesia (bahkan saat itu ada yang berasal dari Malaysia dan Hongkong), namun kami disini menjadi sebuah keluarga yang erat dan saling berbaur satu sama lain.

Usai pelatihan ini, saya menjalani kehidupan yang lebih baik. Sangat terasa perbedaannya sebelum mengikuti pelatihan GIM dan sesudahnya. Saya selalu merasa beruntung karena banyaknya rezeki yang saya dapatkan tanpa saya duga sebelumnya. Saya yang pernah kuliah di jurusan sastra Jerman akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bisa mengajar bahasa Indonesia di salah satu universitas Jerman. Bukan hanya itu, saya yang masih berkondisi cacat tubuh semakin memiliki banyak teman yang bersimpati. Usai menyelesaikan kontrak menjadi pengajar di luar negeri, saya kembali ke Indonesia dan menikah dengan gadis yang saya cintai sejak SMU. Kini saya bisa membuka sebuah lembaga pendidikan kecil khusus bahasa Jerman dan Inggris yang saya kelola beserta beberapa rekan.

Syukurlah, hidup saya berubah dan impian saya terwujud setelah ikut pelatihan GIM di Bioenergi Center. Impian bisa sukses walau cacat telah saya buktikan. Sekarang saya bisa katakan saya adalah orang cacat yang sukses. Terimakasih semuanya.

(Bpk. Herry Prajaka, 35 tahun, Pengajar Bahasa Jerman, Jawa Timur)