Home Metafisika Islam: Refleksi Kehidupan & Kebenaran Sejati

Metafisika Islam: Refleksi Kehidupan & Kebenaran Sejati

Metafisika Islam: Refleksi Kehidupan & Kebenaran Sejati

Metafisika Islam

Metafisika dan Islam

Metafisika Islam berurusan dengan segala macam pertanyaan. Berikut ini adalah pertanyaan dasar yang terkait dengan inti Islam di satu sisi dan dengan diskusi metafisik di sisi lain.

  • Apa asal usul alam semesta ini?
  • Siapa pencipta sebenarnya dari semua yang ada?
  • Apa sifat realitas absolut?
  • Apa peran seorang Nabi?
  • Mengapa kita datang di alam semesta ini?
  • Kematian untuk setiap yang ada?

Termasuk pertanyaan mengenai:

  • Apakah ada kehidupan sebelum keberadaan ini?
  • Apakah ada kehidupan di akhirat?
  • Bagaimana hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam semesta?
  • Tujuan dari alam semesta ini?
  • Peran untuk makhluk di alam semesta ini?
  • Apa yang baik dan apa yang buruk?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini merumuskan Metafisika Islam. Dengan kata lain ini adalah dasar-dasar Islam yang menjadi dasar keilmuan metafisik. Dalam perkembangannya Metafisika Islam kemudian banyak dipelajari oleh filsof-filsof modern yang tidak semuanya beragama islam. Sehingga para ilmuan dan ahli filsafat muslim termasuk para cendikiawan muslim kemudian memunculkan apa yang disebut dengan Metafisika Muslim.

 Metafisika Muslim

Metafisika Islam

Seseorang seharusnya tidak pernah membingungkan Metafisika Muslim dengan Metafisika Islam. Meski dasar metafisika Muslim adalah Metafisika Islam tetapi ada perbedaan yang luar biasa dalam keduanya.

Yang pertama terdiri dari prinsip-prinsip yang diwahyukan dan ilahi, sementara yang kedua adalah produk dari pengejaran intelektual manusia.  “Pengejaran intelektual dari para cendekiawan Muslim (dari segala usia) didasarkan pada Metafisika Islam (fundamental) dikenal sebagai Metafisika Muslim.

Meskipun sumber fundamental untuk semua sarjana adalah dasar Islam tetapi mereka memperkaya temuan mereka dengan perbendaharaan pengetahuan lainnya juga seperti bahasa Yunani, Persia, dan Cina dll. Dalam hal ini dapat memasukkan kontribusi non-Muslim yang berjuang di bidang ini meskipun memiliki agama yang berbeda dan latar belakang budaya berbrda.

Memahami Metafisika Islam

Kembali lagi pada bahasan utama tentang Metafisika Islam. Dengan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bahasan Metafisika dan Islam kita akan dapat memahami Metafisika Islam. Yaitu pada bidang-bidang yang berkaitan dengan Pencipta dan penciptaan, Nubuat, Tujuan Penciptaan, Keberadaan semua manusia, sebelumnya, keberadaan mereka di dunia Ini, kematian, kehidupan akhirat, hubungan antara Tuhan, manusia dan Alam Semesta, masalah perilaku dan sebagainya.

Pencipta dan Penciptaan

Metafisika Islam

 

Tentang pencipta & penciptaan terkait dengan Realitas Absolut, Pencipta, Penciptaan, Asal mula penciptaan dan Alam semesta ini. Menurut Islam inti dari semua kejadian adalah Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menggambarkan mengenai berbagai hal diatas salah satu diantaranya dalam surat Al-Ikhlas: Qul huwa allaahu ahad(un), allaahu alshshamad(u), lam yalid walam yuulad(u), walam yakullahu kufuwan ahad(un), yang artinya: Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,  Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu,  Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

Dalam Alqur’an Tuhan itu Satu, Pencipta Segala Sesuatu,  Baik Mutlak, Mahakuasa, Mahatahu, Hidup, Semua Kekuatan, Penopang, Panduan, Pemilik Mutlak, Tuan segala Tuhan, Pengampun,  Baik,  Penyayang, Abadi, Lebih dekat daripada kehidupan, Benar-benar Hebat, Sempurna Penjaga, Maha Mengetahui, Semua bergantung kepada-Nya, Tidak ada yang seperti Dia, Dia tidak beranak,  Dia juga tidak diperanakkan.

*******

Sementara di Nahjul Balagha konsep Tauhid (Keesaan Tuhan) lebih tegas menyatakan telah digambarkan sebagai: “Maha Suci Allah; Pemuliaan siapa tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Berkat dan karunia yang tidak dapat disebutkan oleh penghitung dan pencacah, dan penghormatan kepada-Nya tidak dapat dibayar bahkan oleh yang paling tekun dan menjaga upaya. Tidak ada yang bisa sepenuhnya memahami atau menjelaskan Keberadaan-Nya, betapapun susahnya dia mencoba. Akal dan akal sehat tidak dapat memvisualisasikan-Nya.

Kecerdasan, pemahaman, dan pencapaian tidak bisa mencapai kedalaman pengetahuan untuk mempelajari atau meneliti Ketuhanan. Kemampuan konsepsi manusia, persepsi, dan pembelajaran, dan atribut kemauan, intuisi, tidak dapat merasakan Dia atau pahami sejauh mana kekuasaan dan kemuliaan-Nya. “

Nubuat

Nubuat adalah doktrin terpenting kedua Metafisika Islam. Ini adalah kelanjutan dari bimbingan ilahi mulai dari hari pertama penciptaan manusia berada dalam bentuk nabi pertama Adam (AS). Allah SWT telah mengirim nabi untuk bimbingan umat manusia di segala usia untuk setiap bangsa. Para nabi adalah orang-orang yang diberkati yang dipilih dan ditunjuk oleh Allah untuk memimpin umat manusia.  Mereka adalah hubungan ilahi antara Allah dan ciptaan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang sempurna.

Para nabi adalah pembawa wahyu. Mereka menyampaikan pesan-pesan Allah kepada manusia. Dan Nabi Muhammad (SAW) adalah nabi Agung & Rasul yang merupakan meterai nubuat.Al- Qur’an telah diturunkan pada Nabi Suci Muhammad (SAW) oleh malaikat Jibril (AS). Ini adalah sumber pengetahuan paling dasar dan otentik dalam Islam. Menurut Al- Qur’an,

Nabi Muhammad (SAW) adalah panutan bagi seluruh umat manusia. Beliau merupakan satu-satunya sumber ilahi penerima pesan dan Metafisika Islam. Karena Beliau yang memperkenalkan kita tentang Tauhhid,Al-Qur’an, Nabi – Nabi & Rasul sebelumnya dan juga kitab-kitab mereka, malaikat, hari penghakiman, kebangkitan, kehidupan akhirat dll.

Pesan

Seseorang bisa mendapatkan kehendak Allah hanya dengan mengikutinya.  Rasullullah Muhammad adalah satu-satunya sumber epistemologi agama. Bahkan seluruh Metafisika Islam berputar di sekitar beliau. Allah SWT telah menggambarkan pentingnya keberadaan Nabi Muhammad.

Sebagaiman tertulis dalam Al-Qur’an surat Surat Al-Ahzab Ayat 56 yang artinya: Sesungguhnya Allah menyanjung Nabi di depan para malaikat yang dekat kepadaNya, para malaikat juga menyanjung Nabi dan mendoakannya. Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan RasulNya serta melaksanakan SyariatNya, bershalawat kepada Nabi dan ucapkanlah salam dengan sebenar-benarnya sebagai penghormatan dan pengagungan.

Penciptaan & Tujuan Penciptaan

Metafisika Islam

 

Mengenai Penciptaan Alam semesta Al’Qur’an menjelaskan  diantaranya dalam

Surat Al-Baqarah Ayat 164 yang artinya:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”

Mengenai ayat tersebut, dalam tafsir lain dijelaskan lebih detail sebagai berikut: Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan mengenai tanda-tanda kebesaran-NYA dalam penciptaan seluruh makhluk-NYA dan tidak ada yang mampu mengambil pelajaran dari segala kebesaran penciptaan-NYA kecuali orang-orang yang berakal dan memakai akalnya untuk mentafakurinya.

Diantara tanda-tanda kebesaran Allah yang disebutkan dalam ayat ini adalah sebagai berikut:

Pertama,

Allah menciptakan langit yang kita lihat sekarang dengan ketinggiannya, keluasannya, keindahannya. Bintang-bintangnya yang bertebaran, matahari yang menjadi pusat tatasurya. Bulan yang peredarannya menajadi patokan penanggalan manusia, dan sega benda langit laiinya yang Allah ciptakan demi kemaslahat manusia.

Kemudia Allah ciptakan bumi sebagai hamparan dengan tingkat kepadatannya. Lembah-lembahnya, gunung-gunungnya, lautannya, padang saharanya, hutan-hutannya yang lebat, keramaiannya serta segala sesuatu yang ada padanya yang bermanfaat untuk manusia.

Dan proses penciptaan langit dan bumi ini Allah ciptakan hanya dalam qurun waktu enam hari sebagaiman firman-NYA.  “Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan”. (QS : Qaff 38) 

Ibnu katsir menjelaskan makna hari dalam ayat ini terdapat dua pendapat menurut para ulama : hari seperti yang dipahami manusia, yaitu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya kembali. Pendapat ini adalah pendapat jumhur para ulama. Hari yang dimaksud adalah hari ahirat yang digambarkan bahwa satu hari ahirat sama dengan 1000 tahun perhitungan manusia di dunia. Pendapat ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas, Addohak dan ahli tafsir lainnya.

Kedua,

Metafisika Islam

 

Yaitu pergantian siang dan malam yang dengan teraturnya silih berganti tidak terkambat sedikitpun. Tidak ada malam yang mendahuli siang dan begitupula sebaliknya. Allah berfirman : “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya” (QS : Yasin :40).

Adakalanya disebagian tempat  lamanya siang lebih panjang dari malam, dan adakalanya juga lamanya malam lebih panjang dari siang. Dan hal itu silih berganti dengan teraturnya. Tidak ada yang mampu mengatur ritme peredaran matahari dan bulan ini kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketiga,

Menundukan laut untuk bisa dilalui perahu berlayar diatasnya, seperti dalam firman-Nya pada Surat Al-Jatsiyah Ayat 12. Yang artinya: “Dan bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia”. Yakni Allah tundukan laut agar dapat membawa berlayar perahu-perahu diatasnya. Tidak membuat perahu tersebut tenggelam walaupun membawa beban yang berat.

Perahu-perahu tersebut berlayar dari satu pantai ke pantai yang lain membawa barang-barang yang bermanfat bagi manusia. Menjadikan laut sebagai salah satu jalur transportasi manusia guna membawa barang-barang kebutuhan mereka dari satu pulau ke pulau yang lain. Ayat ini juga dijadikan dalil oleh Imam Alqurtubi akan bolehnya menggunakan pereahu sebagai sarana transportasi dan berdagang untuk kepentingan kehidupan manusia.

Keempat,

Allah turunkan hujan untuk menghidupkan bumi, sebagaimana tertulis dalam firman-Nya “Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya”.

Ayat ini semakna dengan ayat lain, yaitu “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka.

Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?* Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”. (QS. Yasin :33-36)

Kelima,

Allah ciptakan hewan-hewan di bumi. “Dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan” Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan di bumi ini berbagai jenis hewan dengan berbagai jenis bentuk,warna dan manfaat. ada yang kecil ada yang besar, ada hewan yang bisa dijadikan makanan untuk manusia ada juga yang bisa diminum susunya dan ada juga yang bisa dijadikan tunggangan untuk berkendara bepergian ke beragai tempat. Semua itu semata-mata sebagai rezeki bagi manusia di dunia.

Keenam,

Kisaran angin dan awan antara langit dan bumi,  sebagaimna firman-NYA : “Dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi” yakni adakalanya angin datang mebawa rahmat dan adakalanya datang membawa azab. Adakalanya angin datang membwa tanda-tanda yang akan menggembirakan seperti awan yang datang sebelum turunnya hujan.

Dan adakalanya kadatangannya sebagai tanda yang menakutkan yang dapat menghancurkan apapun yang disapunya. Adakalanya angin datang dari arah timur ke barat adakalanya juga sebaliknya. Hal ini merupakan tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang meniupkan angin tersebut dari berbagai arah yang Allah kehendaki.

Tentang proses penciptaan

Metafisika Islam

 

Allah juga berfirman dalam Surat Fussilat Ayat 11 yang artinya: “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.

Dalam Tafsir lain mengenai ayat tersebut di jabarkan bahwa Dari menguraikan ihwal penciptaan bumi dan sarana kehidupan bagi makhluk yang mendiaminya, Al-Qur’an kemudian beralih kepada ihwal penciptaan langit. Kemudian dia, yakni perintah atau kekuasaan-Nya menuju ke langit dan langit ketika itu masih berupa asap, lalu dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, ‘datanglah kamu berdua menuruti perintah-ku dengan patuh atau terpaksa. ‘ mendengar perintah itu, keduanya, langit dan bumi, lalu menjawab, ‘kami datang kepada-Mu ya Allah dengan tunduk dan patuh guna mengikuti aturan-Mu.

*******

Ayat ini masih menjelaskan tentang penciptaan langit. Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam waktu dua masa, dan pada setiap langit dia mewahyukan dan menetapkan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat dengan bumi, kami hiasi dengan bintang-bintang yang bersinar cemerlang, dan kami ciptakan bintang-bintang itu untuk memelihara langit dengan pemeliharaan yang sempurna. Demikianlah ketentuan Allah berlaku, dan dia adalah zat yang mahaperkasa lagi maha mengetahui (Surat Al-Mu’min Ayat 57).

Penciptaan Allah terhadap langit dan bumi adalah lebih besar daripada penciptaan manusia dan mengembalikan mereka hidup kembali setelah mereka mati, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui bahwa menciptakan semua itu adalah mudah bagi Allah.

Menurut Al-Qur’an, dunia ini adalah fana dan tempat sementara.  Akan ada hari terakhir alam semesta ini. Kebangkitan akan diadakan. Pasti ada hari penghakiman. Ada kehidupan yang abadi di akhirat. Orang-orang akan diberi hadiah dan dihukum pada hari pengadilan sesuai dengan peran mereka di alam semesta. Tujuan akhir dari kehidupan manusia adalah ketaatan kepada Allah SWT. 

Keberadaan sebelum Keberadaan Dunia Ini

Metafisika Islam

 

Menurut Al-Qur’an, Allah SWT telah mengambil saksi keesaan-Nya dari semua anak-anak Adam (AS) sebelum penciptaan dunia dan kehidupan ini. Karena itu, Dia mengukir konsep dewa dalam manusia sebelum turun mereka di alam semesta ini. 

sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-A’raf Ayat 172: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Penjelasan keberadaan sebelumnya juga di jelaskan dalam Surat Al-Waqi’ah Ayat 62 yang artinya: ” Dan Sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)? Dalam tafsir lain di terangkan bahwa Allah yang mahakuasa telah melakukan penciptaan manusia yang pertama, maka tentu dia kuasa pula untuk menghidupkan kembali mereka yang sudah mati pada penciptaan kedua”

Sumber: https://tafsirweb.com/10566-surat-al-waqiah-ayat-62.html

Kematian

Seseorang mungkin berbeda dari orang lain dalam masalah apa pun atau pada dasar iman apa pun. Tetapi tidak ada yang bisa menolak kenyataan bahwa kematian adalah kenyataan yang tidak dapat disangkal. Mungkin ada banyak interpretasi kematian baik orang percaya dan tidak percaya tetapi tidak ada yang bisa membantah sampai mati.

Menurut Islam, kematian tidak berarti kehancuran atau tujuan akhir. Itu adalah awal dari kehidupan baru. Itu adalah kembali kepada Tuhan. Orang-orang taat dengan tingkatan spiritual tinggi (pengikut sejati) Allah SWT memohon hanya kematian. Mereka menghadapi kematian dengan berani dan bahagia. Yang menganggap bahwa kematian memberikan kesempatan untuk bertemu dengan Tuhan. 

Al-Quran telah menyatakannya sebagai wilayah metafisika dengan kepastian mutlak. Banyak orang percaya maut adalah panggilan kebahagiaan, pahala dan riang. Jadi dia bekerja keras di dunia ini untuk memenuhi tugasnya dan menunggu kematian dengan cemas. Bagi seorang muslim kematian berarti tanda harapan dan kesenangan yang mencegah dari semua kekecewaan dan depresi. 

Kematian menurut Ahli Metafisika Islam

Menurut Dr. Allama Muhammad Iqbal: “Sangat mustahil bahwa makhluk yang evolusinya telah mengambil jutaan tahun harus dibuang sebagai sesuatu yang tidak berguna. Hidup menawarkan ruang untuk kegiatan ego, dan kematian adalah ujian pertama dari aktivitas sintetik ego. “

Ini bermakna bahwa setelah kematian akan ada kehidupan lain dimana dalam kehidupan berikutnya ada kaitannya dengan kehidupan di dunia ini. Dalam metafisika Islam kehidupan setelah kematian adalah kehidupan aherat. Dimana keterkaitannya dengan kehidupan dunia adalah bahwa kebahagiaan atau penderitaan kita di Aherat adalah buah atau hasil dari kehidupan kita di dunia ini. 

Kehidupan Akhirat

Allah yang Mahakuasa adalah kebaikan mutlak. Dia telah menciptakan dan merancang segala sesuatu di alam semesta ini dengan sangat baik. Dia adalah satu-satunya penjamin dan pengatur alam semesta ini. Menurut rencananya setiap keberadaan alam semesta ini memiliki tujuan. Dalam sistem-Nya tidak ada yang tanpa tujuan. Allah memberkati manusia & makhluk dengan alasan. Ciri khas umat manusia di antara semua ciptaan lainnya adalah alasan.

Rasionalitas menuntut kemandirian dan pemikiran bebas. Karena itu, setiap makhluk rasional memiliki sebuah kebebasan memilih. Allah SWT mengutus para nabi-Nya untuk memimpin umat manusia ke tujuan utamanya yaitu kepatuhan Allah SWT dan kesejahteraan umat manusia. Al-Qur’an adalah wahyu terakhir-Nya pada terakhir-Nya keberadaan Para Nabi yaitu Nabi Muhammad (SAW). Itu adalah konstitusi ilahi bagi umat manusia. 

Subjek utama dari Al-Qur’an adalah manusia. Tujuan utama Quran adalah bimbingan dan perbaikan manusia. Islam tidak memaksa siapa pun dalam mengadopsi agama. “Untukmu Agamamu dan Untukku Agamaku”. 

*******

Setiap orang memiliki hak untuk memilih jalannya. Jadi, semua orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Rentang hidup yang terbatas ini dan ketidakadilan yang ada di dunia ini mensyaratkan bahwa harus ada sebuah dunia di mana setiap makhluk akan dihargai atau dihukum karena perbuatannya. Akibatnya, dalam Metafisika Islam, doktrin kehidupan selanjutnya memiliki kepentingan yang vital yaitu:

 

  • Terlepas dari semua ketidakadilan dan kesengsaraan, orang akan selalu optimis
  • Akan ada perjuangan yang berkelanjutan dan konstan untuk kebaikan
  • Suatu makhluk akan berusaha keras untuk perbaikan dan kesejahteraan masyarakat tanpa keinginan hadiah apa pun.

Hubungan antara Tuhan, Manusia dan Alam Semesta

Metafisika Islam

 

Hubungan antara Tuhan / Realitas Absolut, Manusia, dan alam semesta adalah bagian penting dalam Metafisika Islam. 

Mengenai hal itu menurut Al-Qur’an:

  • Allah adalah Pencipta Mutlak
  • Manusia adalah khalifah Allah di alam semesta ini
  • Semua manusia memiliki hak yang sama 
  • Islam tidak suka diskriminasi apa pun atas nama warna kulit, kepercayaan, darah, dan generasi.
  • Segala sesuatu dari alam semesta ini telah diciptakan untuk kebaikan.
  • Tidak ada pemisahan antara spiritual dan material.

Untuk tujuan yang lebih baik dan untuk kehidupan yang sukses di akhirat kita harus menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam hal ini kehidupan yang sesuai perintah Allah.

  • Dunia ini seperti pusat pemeriksaan makhluk 
  • Allah telah memberkati manusia dengan bimbingan ilahi dan dengan kemampuan intuisi, akal,dan persepsi indra, dan hati
  • Jadi, semuanya sakral dan terkait satu sama lain. Metafisika Islam adalah kreatifitas yang Maha Basar diciptakan oleh Allah dalam kehidupan dan alam semesta. 

Untuk sukses di kedua dunia, seseorang harus bekerja keras dalam kehidupan ini dan harus menggunakan akal dan akal sehat untuk menemukan misteri alam semesta ini di bawah bimbingan wahyu Ilahi.

Masalah Perilaku dan Perilaku

Masalah perilaku dan perilaku adalah masalah penting Metafisika Islam. Menurut karakternya Metafisika Islam bukanlah teoretis atau utopis tetapi juga praktis & alami. Semangat praktis metafisika Islam muncul dengan sendirinya dalam materi dan fisik dunia. Karakter dasarnya adalah untuk merevolusi kehidupan individu dan mengembangkan masyarakat dalam cahaya kebenaran dengan bimbingan ilahi. 

 Seperti dalam surat Al-Baqarah : 164. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”.

Dunia ini bukanlah tujuan akhir wujud. Ini adalah stasiun sementara untuk hidup yang kekal. Setiap makhluk bertanggung jawab atas pemikiran dan tindakannya.  Setiap orang harus dihukum atau diberi hadiah seumur hidup atas nama perilakunya dan niat serta tindakan mereka. Kehidupan dunia ini adalah masa transisi. Transisi ini fase melekat di satu sisi dengan janji kognitif dan sukarela dari semua makhluk sehubungan dengan Tauhid (Keesaan Allah SWT) dan Risalah (Ajaran Nabi muhammad & nabi-nabi lain sebelumnya).

*******

Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk kebaikan. Jadi, kebaikan adalah absolut sementara kejahatan relatif. Cara yang tepat untuk berperilaku dan sebagai makhluk yang ideal adalah: Patuh kepada Allah SWT & Kesejahteraan umat manusia.

Teladan yang sempurna untuk tujuan di atas adalah kehidupan Nabi Muhammad (SAW). Nabi Muhammad (SAW) menjalani kehidupan yang ideal. Dari Beliau kita mendapati pertemuan antara spiritualitas dan kemanusiaan, teori dan tindakan dalam kepribadian-Nya. Untuk menjalankan syariat yang dibawa oleh beliau siapapun harus berkomitmen bahwa semua aktivitas dan segala tindakan dan doanya hanya ditujukan kepada Allah SWT. Arah semua niat dan tindakannya hanya akan Ditujukan kepada Allah.

Kondisi dasar untuk menjadi seorang Muslim adalah untuk menindaklanjuti kehidupan Nabi Muhammad (SAW). Jadi, seorang Muslim harus mengidealkan beliau untuk mencapai kehendak Tuhan dan untuk menjalani kehidupan yang diinginkan sebagaimana yang seharusnya.